Menciptakan Suatu Kondisi Selaras, Serasi, Seimbang Untuk Mencapai Kesadaran Mengacu Pada Konsolidasi Diri Seutuhnya

Berbicara mengenai kerajaan batin manusia, kita mengenal adanya dorongan-dorongan, kecenderungan-kecenderungan, berbagai keinginan boleh juga dibilang nafsu atau harapan-harapan dan bisa juga cita-cita. Kadang kala dalam diri kita ada raja / presiden yang seperti kita ketahui raja / presiden itu kepala eksekutif yang kecenderungannya memerintah. Di dalam memerintah bisa adil, bisa bijaksana, bisa otoriter, bisa sewenang-wenang dengan berbagai macam dalih dan kepentingan yang dibuatnya, bisa pula bertindak sebagai diktator, namun di sisi lain ada kearifan, penuh cinta kasih dan kasih sayang mementingkan kepentingan rakyatnya diatas kepentingan pribadi. Kekuasaan ada di dalam genggaman tangannya.

Di waktu lain yang hanya selang beberapa detik saja kita ini adalah seorang pedagang yang benar-benar memiliki prinsip bahwa setiap langkah dan geraknya, setiap aktifitas yang dilakukannya, setiap waktu yang dimilikinya, selalu digunakan dengan berorientasi kepada keuntungan yang didapatkannya. Apakah kalau saya berjualan mobil bisa untung? Apakah untungnya kalau saya mengerjakan hal ini, hal itu ataupun hal-hal yang lain? Saya ada waktu 2 (dua) jam yang luang pagi ini, supaya beruntung hal apakah dan dengan cara bagaimana serta bersama siapakah saya mesti bekerja? Pekerjaan Apakah yang paling menguntungkan bagi saya?
Dan seterusnya dan seterusnya. Belum selang beberapa menit kita bisa beralih kondisi merubah diri dalam jabatan yang lain. Kita menjadi ustad, kyai, katekis, juru warta, juru rawat, dokter, pendeta, pastur, biksu, bahkan maling sekalipun, bisa juga jaksa atau hakim dan lain-lain.

Sebetulnya di dalam diri kita ada kerajaan batin yang sangat kaya, namun bisa juga sangat miskin, sangat bijaksana, namun bisa juga sewenang-wenang, sangat dermawan, namun bisa juga sangat kikir, sangat adil, namun bisa juga mau menangnya sendiri, kadang-kadang rajin, di lain waktu malas. Kerajaan batin kita bisa dipimpin oleh Tuhan, namun bisa juga dikendalikan oleh iblis. Semuanya itu tergantung pada diri kita sendiri, sebab kita adalah makhluk yang merdeka.

Sehubungan dengan itu para winasis (cerdik cendekiawan zaman lalu merumuskan) mengungkapkan hal-hal tersebut diatas menggambarkan sebagai berikut :

1. Mutmainah kiblat wetan, rupane putih, panggonane ana ing irung lungguhe ana ing batuk
2. Supiyah kiblat lor, rupane kuning, panggonane ana ing mripat lungguhe ana ing pipi
3. Aluamah kiblat kidul, rupane ireng, panggonane ana ing cangkem lungguhe ana ing weteng
4. Amarah kiblat kulon, rupane abang, panggonane ana ing kuping lungguhe ana ing dada

Keterangan:
Mutmainah
Merupakan nafsu yang senantiasa mengajak kita berbuat kebajikan, keutamaan menuju kearah kesucian dan senantiasa pula mengajak kita menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Suci. Kalau tidak terkendali bisa selalu menyendiri untuk menghubungkan diri dengan Tuhan

Supiyah
Supiyah nafsu yang mengurus kearah nafsu birahi, bersolek / berhias, yang kadang kala bisa berlebihan kalau tidak terkendali bisa hanya mengumbar yang berbau seksual saja

Aluamah
Aluamah nafsu yang selalu saja ingin makan, minum yang berlebihan, tidur yang berkepanjangan. Kalau tidak terkendali bisa menjadi rakus makan dan minum, malas bekerja tak mau tahu kesibukan disekitarnya.

Amarah
Amarah nafsu yang mengarah terhadap haus kekuasaan, angkara murka, mau menang sendiri, ingin memiliki / menguasai dunia dan seluruh isinya. Kalau tidak terkendali bisa menjadi perusak dunia.

Ke 4 (empat) nafsu tersebut diatas itu jangan biarkan liar tanpa kendali. Ibarat kita mengendarai kereta yang di tarik oleh 2 (empat) ekor kuda. Untuk mencapai suatu tujuan tertentu, kita mesti memiliki kusir yang paling tidak mendekati sempurna dalam mengendalikan jalannya kereta. Hal ini dimaksudkan supaya kita sampai di tujuan dengan selamat dan selama dalam perjalanan sudah dapat mulai merasakan kenikmatan yang sama seperti kalau kita sudah sampai tujuan.

Ke 4 (empat) kuda berwarna putih, kuning, hitam, dan merah. Itu harus menyatu dalam langkah berlari ketujuan yang sama. Coba kita bayangkan bagaimana jadinya kalau 4 (empat) ekor kuda itu berlari masing-masing ke arah / tujuan yang berbeda. Keretapun tak akan melaju sebagai mana yang kita harapkan. Lalu pertanyaannya kita, siapakah kusir kereta tersebut?

Di dalam pengendalian 4 (empat) nafsu yang ada pada diri kita masing-masing diperlukan bimbingan yang khusus agar selaras, serasi dan seimbang. Disamping kita bisa sampai ke tujuan dengan selamat kita selaras dengan irama hidup kita, serasi tata kehidupan lahir batin kita seimbang antara kepentingan sekarang dan kepentingan masa depan didalam usaha untuk menggapainya.

Bimbingan itu datang dari diri kita masing-masing dengan cara memeriksa kedalam diri kita gejolak mana yang lebih dominan. Maka kita segera kembali ke dalam kesadaran diri kita yang telah kita siapkan melalui berbagai tahapan latihan meditasi dan kontemplasi mengacu pada keselarasan keserasian yang seimbang. Akhirnya kita akan mampu mengendalikan 4 (empat) nafsu yang ada pada diri kita untuk kita pakai sebagai sarana transportasi kita untuk menyongsong hari esok lebih bahagia sejahtera penuh dengan kedamainan.

Kebahagiaan datang dari kita untuk kita dan hanya kita yang tahu betul persisnya. Kemudian secara pasti kesejahteraan akan kita raih. Damai di bumi damai seluruh umat manusia. Amin

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.