<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BAHTERA KASIH</title>
	<atom:link href="http://bahterakasih.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bahterakasih.wordpress.com</link>
	<description>Bahagia Sejahtera dalam Kasih Ilahi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jul 2007 02:33:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bahterakasih.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>BAHTERA KASIH</title>
		<link>http://bahterakasih.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bahterakasih.wordpress.com/osd.xml" title="BAHTERA KASIH" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bahterakasih.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menciptakan Suatu Kondisi Selaras, Serasi, Seimbang Untuk Mencapai Kesadaran Mengacu Pada Konsolidasi Diri Seutuhnya</title>
		<link>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/07/25/menciptakan-suatu-kondisi-selaras-serasi-seimbang-untuk-mencapai-kesadaran-mengacu-pada-konsolidasi-diri-seutuhnya/</link>
		<comments>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/07/25/menciptakan-suatu-kondisi-selaras-serasi-seimbang-untuk-mencapai-kesadaran-mengacu-pada-konsolidasi-diri-seutuhnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 02:33:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudjarwo Sangadji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceramah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahterakasih.wordpress.com/2007/07/25/menciptakan-suatu-kondisi-selaras-serasi-seimbang-untuk-mencapai-kesadaran-mengacu-pada-konsolidasi-diri-seutuhnya/</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara mengenai kerajaan batin manusia, kita mengenal adanya dorongan-dorongan, kecenderungan-kecenderungan, berbagai keinginan boleh juga dibilang nafsu atau harapan-harapan dan bisa juga cita-cita. Kadang kala dalam diri kita ada raja / presiden yang seperti kita ketahui raja / presiden itu kepala eksekutif yang kecenderungannya memerintah. Di dalam memerintah bisa adil, bisa bijaksana, bisa otoriter, bisa sewenang-wenang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=29&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbicara mengenai kerajaan batin manusia, kita mengenal adanya dorongan-dorongan, kecenderungan-kecenderungan, berbagai keinginan boleh juga dibilang nafsu atau harapan-harapan dan bisa juga cita-cita.  Kadang kala dalam diri kita ada raja / presiden yang seperti kita ketahui raja / presiden itu kepala eksekutif yang kecenderungannya memerintah.  Di dalam memerintah bisa adil, bisa bijaksana, bisa otoriter, bisa sewenang-wenang dengan berbagai macam dalih dan kepentingan yang dibuatnya, bisa pula bertindak sebagai diktator, namun di sisi lain ada kearifan, penuh cinta kasih dan kasih sayang mementingkan kepentingan rakyatnya diatas kepentingan pribadi.  Kekuasaan ada di dalam genggaman tangannya.</p>
<p>Di waktu lain yang hanya selang beberapa detik saja kita ini adalah seorang pedagang yang benar-benar memiliki prinsip bahwa setiap langkah dan geraknya, setiap aktifitas yang dilakukannya, setiap waktu yang dimilikinya, selalu digunakan dengan berorientasi kepada keuntungan yang didapatkannya.  Apakah kalau saya berjualan mobil bisa untung? Apakah untungnya kalau saya mengerjakan hal ini, hal itu ataupun hal-hal yang lain?  Saya ada waktu 2 (dua) jam yang luang pagi ini, supaya beruntung hal apakah dan dengan cara bagaimana serta bersama siapakah saya mesti bekerja?  Pekerjaan Apakah yang paling menguntungkan bagi saya?<br />
Dan seterusnya dan seterusnya.  Belum selang beberapa menit kita bisa beralih kondisi merubah diri dalam jabatan yang lain. Kita menjadi ustad, kyai, katekis, juru warta, juru rawat, dokter, pendeta, pastur, biksu, bahkan maling sekalipun, bisa juga jaksa atau hakim dan lain-lain.</p>
<p>Sebetulnya di dalam diri kita ada kerajaan batin yang sangat kaya, namun bisa juga sangat miskin, sangat bijaksana, namun bisa juga sewenang-wenang, sangat dermawan, namun bisa juga sangat kikir, sangat adil, namun bisa juga mau menangnya sendiri, kadang-kadang rajin, di lain waktu malas.  Kerajaan batin kita bisa dipimpin oleh Tuhan, namun bisa juga dikendalikan oleh iblis.  Semuanya itu tergantung pada diri kita sendiri, sebab kita adalah makhluk yang merdeka.</p>
<p>Sehubungan dengan itu para winasis (cerdik cendekiawan zaman lalu merumuskan) mengungkapkan hal-hal tersebut diatas menggambarkan sebagai berikut :</p>
<p>1. Mutmainah kiblat wetan, rupane putih, panggonane ana ing irung lungguhe ana ing batuk<br />
2. Supiyah kiblat lor, rupane kuning, panggonane ana ing mripat lungguhe ana ing pipi<br />
3. Aluamah kiblat kidul, rupane ireng, panggonane ana ing cangkem lungguhe ana ing weteng<br />
4. Amarah kiblat kulon, rupane abang, panggonane ana ing kuping lungguhe ana ing dada</p>
<p>Keterangan:<br />
<strong>Mutmainah</strong><br />
Merupakan nafsu yang senantiasa mengajak kita berbuat kebajikan, keutamaan menuju kearah kesucian dan senantiasa pula mengajak kita menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Suci.  Kalau tidak terkendali bisa selalu menyendiri untuk menghubungkan diri dengan Tuhan</p>
<p><strong>Supiyah</strong><br />
Supiyah nafsu yang mengurus kearah nafsu birahi, bersolek / berhias, yang kadang kala bisa berlebihan kalau tidak terkendali bisa hanya mengumbar yang berbau seksual saja</p>
<p><strong>Aluamah</strong><br />
Aluamah nafsu yang selalu saja ingin makan, minum yang berlebihan, tidur yang berkepanjangan.  Kalau tidak terkendali bisa menjadi rakus makan dan minum, malas bekerja tak mau tahu kesibukan disekitarnya.</p>
<p><strong>Amarah</strong><br />
Amarah nafsu yang mengarah terhadap haus kekuasaan, angkara murka, mau menang sendiri, ingin memiliki / menguasai dunia dan seluruh isinya. Kalau tidak terkendali bisa menjadi perusak dunia.</p>
<p>Ke 4 (empat) nafsu tersebut diatas itu jangan biarkan liar tanpa kendali.  Ibarat kita mengendarai kereta yang di tarik oleh 2 (empat) ekor kuda.  Untuk mencapai suatu tujuan tertentu, kita mesti memiliki kusir yang paling tidak mendekati sempurna dalam mengendalikan jalannya kereta.  Hal ini dimaksudkan supaya kita sampai di tujuan dengan selamat dan selama dalam perjalanan sudah dapat mulai merasakan kenikmatan yang sama seperti kalau kita sudah sampai tujuan.</p>
<p>Ke 4 (empat) kuda berwarna putih, kuning, hitam, dan merah. Itu harus menyatu dalam langkah berlari ketujuan yang sama.  Coba kita bayangkan bagaimana jadinya kalau 4 (empat) ekor kuda itu berlari masing-masing ke arah / tujuan yang berbeda.  Keretapun tak akan melaju sebagai mana yang kita harapkan.  Lalu pertanyaannya kita, <strong>siapakah kusir kereta tersebut?</strong></p>
<p>Di dalam pengendalian 4 (empat) nafsu yang ada pada diri kita masing-masing diperlukan bimbingan yang khusus agar selaras, serasi dan seimbang. Disamping kita bisa sampai ke tujuan dengan selamat kita selaras dengan irama hidup kita, serasi tata kehidupan lahir batin kita seimbang antara kepentingan sekarang dan kepentingan masa depan didalam usaha untuk  menggapainya.</p>
<p>Bimbingan itu datang dari diri kita masing-masing dengan cara memeriksa kedalam diri kita gejolak mana yang lebih dominan.  Maka kita segera kembali ke dalam kesadaran diri kita yang telah kita siapkan melalui berbagai tahapan latihan meditasi dan kontemplasi mengacu pada keselarasan keserasian yang seimbang.  Akhirnya kita akan mampu mengendalikan 4 (empat) nafsu yang ada pada diri kita untuk kita pakai sebagai <strong>sarana transportasi</strong> kita untuk <strong>menyongsong hari esok lebih bahagia sejahtera penuh dengan kedamainan.</strong></p>
<p>Kebahagiaan datang dari kita untuk kita dan hanya kita yang tahu betul persisnya. Kemudian secara pasti kesejahteraan akan kita raih. Damai di bumi damai seluruh umat manusia. Amin</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bahterakasih.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bahterakasih.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bahterakasih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bahterakasih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bahterakasih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bahterakasih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bahterakasih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bahterakasih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bahterakasih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bahterakasih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bahterakasih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bahterakasih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bahterakasih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bahterakasih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bahterakasih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bahterakasih.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=29&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/07/25/menciptakan-suatu-kondisi-selaras-serasi-seimbang-untuk-mencapai-kesadaran-mengacu-pada-konsolidasi-diri-seutuhnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/408b13a63a0a65b428fea52b5bbcf497?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Sudjarwo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa Untuk Tuhan Dan Orang Tua Kita</title>
		<link>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/07/25/doa-untuk-tuhan-dan-orang-tua-kita/</link>
		<comments>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/07/25/doa-untuk-tuhan-dan-orang-tua-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 01:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudjarwo Sangadji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceramah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahterakasih.wordpress.com/2007/07/25/doa-untuk-tuhan-dan-orang-tua-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Keberadaan kita yang berasal dari orang tua kita, Tuhan dan Alam telah diyakini akan keberadaannya. Yang datang sebelum kita ada, sangat besar sekali sumbangannya. Lalu apa yang mesti kita perbuat untuk itu semuanya? Didalam agama yang kita anut termuat bagaimana kita mesti bersikap terhadap Tuhan, bersikap terhadap orang tua dan bersikap terhadap seisi alam, mengingat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=28&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keberadaan kita yang berasal dari orang tua kita, Tuhan dan Alam telah diyakini akan keberadaannya.  Yang datang sebelum kita ada, sangat besar sekali sumbangannya.  Lalu apa yang mesti kita perbuat untuk itu semuanya?</p>
<p>Didalam agama yang kita anut termuat bagaimana kita mesti bersikap terhadap Tuhan, bersikap terhadap orang tua dan bersikap terhadap seisi alam, mengingat akan keberadaan kita.</p>
<p>Suatu kesalahan masa lampau, dosa masa lampau kebaikan masa lampau dan semuanya tentang masa lampau dari orang tua kita, kita persembahkan kepada Tuhan. Karena itu semuanya, ada pada diri kita maka hal tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus pula dari kita.</p>
<p>Tuhan sumber kebahagiaan kita. Tuhan asal usul kesejahteraan kita, Tuhan pula juru damai yang telah teruji dengan segala sesuatu yang ada pada Nya.  Kita terbimbing kearah mendekati sempurna karena Sang Pencipta itu sempurna adanya.</p>
<p>Kita dapat menunjukkan rasa bakti kita kepada orang tua kita yang merupakan kepanjangan tangan Tuhan akan keberadaan kita dengan cara mengunjungi ke makam orang tua / leluhur kita dan bagi yang orang tuanya masih ada bisa dengan mengadakan kontak batin dengan orang tuanya.</p>
<p>Doa dapat kita lakukan dalam bentuk meditasi, kontemplasi, dzikir / litani, wirid / rosario, baca parita-parita, dan sebagainya. Doa yang kita lakukan, kita haturkan kepada Tuhan untuk Tuhan serta seluruh leluhur kita, termasuk para orang tua kita.</p>
<p>Ada Ungkapan Jawa Kuno tentang peri laku 5 (lima) hal untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang 2 (dua) diantaranya adalah sebagai berikut :</p>
<p>1. Sinten ingkang tansah ngabekti dateng Gustinipun (Tuhan) punika bade kinabekten dening<br />
    manungsa</p>
<p>2. Sinten ingkang angidhep ing yayah-renanipun (Bapa biyung) punika bade kinedhepan ing<br />
    manungsa</p>
<p>Mari kita siapkan doa kepada Tuhan untuk Tuhan dan kedua orang tua kita mengingat kita adalah umatnya dan penerus generasinya</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bahterakasih.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bahterakasih.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bahterakasih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bahterakasih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bahterakasih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bahterakasih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bahterakasih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bahterakasih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bahterakasih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bahterakasih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bahterakasih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bahterakasih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bahterakasih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bahterakasih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bahterakasih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bahterakasih.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=28&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/07/25/doa-untuk-tuhan-dan-orang-tua-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/408b13a63a0a65b428fea52b5bbcf497?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Sudjarwo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Interaksi Manusia Dengan Sesama Dalam Hubungannya Dengan Sang Pencipta Dan Alam</title>
		<link>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/05/02/interaksi-manusia-dengan-sesama-dalam-hubungannya-dengan-sang-pencipta-dan-alam/</link>
		<comments>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/05/02/interaksi-manusia-dengan-sesama-dalam-hubungannya-dengan-sang-pencipta-dan-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2007 01:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudjarwo Sangadji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceramah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahterakasih.wordpress.com/2007/05/02/interaksi-manusia-dengan-sesama-dalam-hubungannya-dengan-sang-pencipta-dan-alam/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai maka kita ketahui secara nyata, tidaklah mudah untuk berpendapat siapakah manusia pertama yang ada di muka bumi ini. Kita dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua kita yang ternyata orang tua kita bukanlah orang yang pertama didunia. Masih banyak orang tua &#8211; orang tua yang lain bahkan banyak pula yang lebih tua dari orang tua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=26&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai maka kita ketahui secara nyata, tidaklah mudah untuk berpendapat siapakah manusia pertama yang ada di muka bumi ini.  Kita dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua kita yang ternyata orang tua kita bukanlah orang yang pertama didunia.  Masih banyak orang tua &#8211; orang tua yang lain bahkan banyak pula yang lebih tua dari orang tua kita. Lalu kita coba telusuri lebih jauh, kita kaji lebih lanjut dan lebih banyak lagi,&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;itupun tidak ditemukan secara pasti siapakah manusia pertama yang hidup dimuka bumi ini?</p>
<p>Kemudian mari kita perhatikan warna kulit kita. Ada yang berkulit putih, berkulit kuning langsat, berkulit sawo matang, bahkan sampai yang berkulit hitam. Kita perhatikan rambut manusia ada yang lurus, ada yang berombak, ada yang keriting. Keriting pun masih bermacam &#8211; macam lagi. Sedangkan warna rambutnya pun beragam pula. Masih ada tanda &#8211; tanda fisik yang lain yang makin membuat penasaran bagi kita untuk memastikan siapakah manusia pertama yang hidup dimuka bumi ini.</p>
<p>Kita perhatikan lagi tentang dimana manusia pertama tinggal dimuka bumi ini. Apakah di Indonesia, di Asia, di Australia, di Eropa, di Amerika atau di Afrika. Itu masih merupakan tanda tanya besar bagi kita. Belum lagi tentang bahasa lesan yang beraneka ragam yang makin melengkapi akan keterbatasan kita dalam memastikan diri untuk bisa tahu dengan pasti siapakah nenek moyang kita yang pertama kali hidup di dunia.</p>
<p>Mungkinkah sekaligus populasi manusia di dunia ini sudah dalam jumlah yang banyak dengan keaneka ragaman yang ada. Ataukah kita karena dalam keterbatasan dalam berbagai hal tak usah mencari terlalu jauh, menganggap terlalu tinggi, menggali terlalu dalam.</p>
<p>Terlepas dari itu semua sejak lahir kedunia manusia sebagai individu tidak bisa dalam kesendirian. Semenjak manusia dilahirkan di dunia perhatian terhadap sesamanya telah ada. Yang mula &#8211; mula diperhatikan adalah keluarganya, kemudian kerabatnya, tetangganya, teman &#8211; teman sepermainan. Pada awal perhatian itu bersifat naluriah yang timbul secara kuat untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya.</p>
<p>Hubungan Interaksi teman &#8211; temannya, hubungan interaksi dengan tetangganya, hubungan interaksi dengan kerabatnya, hubungan interaksi dengan sesama anggota keluarganya tidak dapat dipisahkan dengan hubungan manusia dengan pribadinya.</p>
<p>Secara sederhana dilihat dari asal usul kejadiannya bisa kita gambarkan sebagai berikut :</p>
<p>                                    &#8212;&#8212;&#8212;&#8211;          TUHAN         &#8212;&#8212;&#8212;<br />
                                    &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-                     | &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
                                          AYAH &#8212;&#8212;  |  &#8212;&#8212; IBU<br />
                                    &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-                      |&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
                                    &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-                      |&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
                                    &#8212;&#8212;&#8212;&#8211;         ALAM               &#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Gamblang sekali bahwa 4 andil yang ada tersebut mutlak harus ada satu sama lain tidak bisa dipisahkan.</p>
<p>4 andil yang berperan mutlak terhadap keberadaan kita patut kita hayati untuk membantu kita dalam merefleksi diri kita dalam rangka membangun kesadaran kita secara bertahap namun pasti tentang asal usul kita. (dalam bahasa jawanya Purwaning Dumadi).</p>
<p>Peran (andil) Ayah, Ibu, Tuhan dan Alam mutlak tidak bisa kita pungkiri lagi.  Kalau toh ada andil dari yang lain &#8211; lainnya untuk sementara ini belum kita bicarakan lebih dahulu.</p>
<p>Selama ini dalam kesibukan kita sehari &#8211; hari mungkin belum sempat kita menjangkau kesana. Marilah kita fokuskan perasaan dan pikiran kita menganalisa, memperhatikan dan merenungi hal &#8211; hal tersebut. Yang datang dari Tuhan yang berasal dari kedua orang tua kita dan yang kita dapatkan dari Alam telah menyatu dalam diri kita, merupakan sesosok manusia dengan keberadaannya.</p>
<p>Dari yang sederhana dulu kita bicarakan yaitu asal usul kita dari orang tua kita. Kita berasal dari kedua orang tua kita. Dan kedua orang tua kita berasal pula dari ayah dan ibu mereka dan seterusnya yang kalau digambarkan nantinya akan seperti kerucut keatas.</p>
<p>Kita mewarisi banyak hal dari orang tua kita. Yang asli kita mewarisi segala sesuatu yang bersifat menurun dari orang tua kita baik secara fisik maupun mental. Bentuk / postur tubuh kita dengan segala kebaikan dan kekurangannya serta kelemahannya, perilaku, watak, dan tingkah laku kita. Dan warisan itu kita terima tanpa ditanyakan lebih dahulu kepada kita tentang kesiapan diri kita, kita harus terima dengan apa adanya.</p>
<p>Warisan itu melekat pada diri kita. Sehubungan dengan itu kita pun mewarisi tentang dosa dan kesalahan namun juga dari hal amal dan ibadah dan sebagainya ditinjau dari akibat langsung dari yang kita terima.</p>
<p>Jadi yang ada pada kita merupakan pemberian dari orang tua kita. Secara jelas pula mutlak adanya hubungan antara orang tua kita dengan Tuhan dan orang tua kita dengan alam dengan segala isinya dan keberadaannya.</p>
<p>Marilah saudara &#8211; saudara kita renungkan yang mendalam tentang itu semua yaitu segala sesuatu yang berhubungan antara :<br />
1. Ayah dan Ibu<br />
2. Ayah dan Ibu dengan Tuhan<br />
3. Tuhan dengan Alam<br />
4. Ayah dan Ibu serta Tuhan dengan Alam<br />
5. Apa yang hendaknya kita lakukan sehubungan dengan yang kita warisi dari orang tua kita?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bahterakasih.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bahterakasih.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bahterakasih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bahterakasih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bahterakasih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bahterakasih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bahterakasih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bahterakasih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bahterakasih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bahterakasih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bahterakasih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bahterakasih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bahterakasih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bahterakasih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bahterakasih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bahterakasih.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=26&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/05/02/interaksi-manusia-dengan-sesama-dalam-hubungannya-dengan-sang-pencipta-dan-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/408b13a63a0a65b428fea52b5bbcf497?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Sudjarwo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penggalian Cinta Sejati</title>
		<link>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/penggalian-cinta-sejati/</link>
		<comments>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/penggalian-cinta-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Mar 2007 02:08:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudjarwo Sangadji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penggalian Cinta Sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/penggalian-cinta-sejati/</guid>
		<description><![CDATA[Lima pertanyaan penggugah kebangkitan spiritualitas untuk menggali kesempurnaan hidup mencapai tujuan menjadi insan kamil/sempurna. 1. Siapakah aku? 2. Untuk apa aku dilahirkan? 3. Apakah tugas hidupku? 4. Kemana aku pergi setelah ini? 5. Kepada siapa aku kembali dan kapan? Bila kita ada waktu hening untuk masuk dalam suasana hati yang memungkinkan kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=21&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lima pertanyaan penggugah kebangkitan spiritualitas untuk menggali kesempurnaan hidup mencapai tujuan menjadi insan kamil/sempurna.<br />
1. Siapakah aku?<br />
2. Untuk apa aku dilahirkan?<br />
3. Apakah tugas hidupku?<br />
4. Kemana aku pergi setelah ini?<br />
5. Kepada siapa aku kembali dan kapan?</p>
<p>Bila kita ada waktu hening untuk masuk dalam suasana hati yang memungkinkan kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas seyogyanya kita menjawab dari sudut pandang kejernihan nurani yang paling dalam.</p>
<p>Kemungkinan juga ada di antara kita yang masih ragu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas bahkan mungkin masih ada yang belum paham benar tentang pertanyan-pertanyaan itu. Pertanyaan-pertanyaan itu hanyalah pemandu bagi kita untuk mulai memasuki penelusuran secara bertahap untuk mengenal Tuhan dan Karya Penciptaan-Nya.</p>
<p>Sungguh indah karya Tuhan dalam penciptaan atas manusia yang dengan kuasa-Nya,keanekaragaman kita mampu menguak keagungan kuasa-Nya. Tuhan Maha Kuasa, dan yang penting lagi Tuhan bertangggung jawab atas karya penciptaan-Nya, terutama dalam hal ini kita mengkaji soal manusia dan Cinta Sejati.</p>
<p>Betapa besar cinta Tuhan kepada manusia dibuktikan dengan karya ciptaan-Nya yang memiliki cinta seperti cinta yang dimiliki Tuhan. Itu Cinta Sejati.</p>
<p>Mungkinkah dengan cinta-Nya kita mampu menjawab lima pertanyaan tersebut di atas dengan baik sehingga kajian kita tentang kesempurnaan hidup bisa terwujud?</p>
<p>Mari sama-sama kita hayati!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bahterakasih.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bahterakasih.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bahterakasih.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bahterakasih.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bahterakasih.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bahterakasih.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bahterakasih.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bahterakasih.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bahterakasih.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bahterakasih.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bahterakasih.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bahterakasih.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bahterakasih.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bahterakasih.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bahterakasih.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bahterakasih.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=21&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/penggalian-cinta-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/408b13a63a0a65b428fea52b5bbcf497?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Sudjarwo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>14 Pedoman Hidup Manusia</title>
		<link>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/14-pedoman-hidup-manusia/</link>
		<comments>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/14-pedoman-hidup-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Mar 2007 02:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudjarwo Sangadji</dc:creator>
				<category><![CDATA[14 Pedoman Hidup Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/14-pedoman-hidup-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[1. Musuh terutama manusia adalah dirinya sendiri 2. Kegagalan manusia adalah kesombongan 3. Kebodohan terutama manusia adalah sifat menipu 4. Kesedihan terutama manusia adalah rasa iri hati 5. Kesalahan terutama manusia adalah mencampakan dirinya 6. Dosa terutama manusia adalah menipu dirinya dan orang lain 7. Sifat manusia yang terkasihan adalah rasa rendah diri 8. Sifat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=23&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Musuh terutama manusia adalah dirinya sendiri</p>
<p>2. Kegagalan manusia adalah kesombongan</p>
<p>3. Kebodohan terutama manusia adalah sifat menipu</p>
<p>4. Kesedihan terutama manusia adalah rasa iri hati</p>
<p>5. Kesalahan terutama manusia adalah mencampakan dirinya</p>
<p>6. Dosa terutama manusia adalah menipu dirinya dan orang lain</p>
<p>7. Sifat manusia yang terkasihan adalah rasa rendah diri</p>
<p>8. Sifat manusia yang paling dapat dipuji adalah semangat keuletannya</p>
<p>9. Kehancuran terbesar manusia adalah rasa keputusasaan</p>
<p>10. Harta terutama manusia adalah kesehatan</p>
<p>11. Hutang terbesar manusia adalah hutang budi</p>
<p>12. Hadiah terutama manusia adalah lapang dada dan mau memaafkan</p>
<p>13. Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh kesah dan tidak memiliki kebijaksanaan</p>
<p>14. Ketentraman dan kedamaian terutama manusia adalah suka berdana dan beramal</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bahterakasih.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bahterakasih.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bahterakasih.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bahterakasih.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bahterakasih.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bahterakasih.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bahterakasih.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bahterakasih.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bahterakasih.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bahterakasih.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bahterakasih.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bahterakasih.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bahterakasih.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bahterakasih.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bahterakasih.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bahterakasih.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=23&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/14-pedoman-hidup-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/408b13a63a0a65b428fea52b5bbcf497?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Sudjarwo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Serat Cempala Hayu</title>
		<link>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/serat-cempala-hayu/</link>
		<comments>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/serat-cempala-hayu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Mar 2007 01:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudjarwo Sangadji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serat Cempala Hayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/serat-cempala-hayu/</guid>
		<description><![CDATA[Prasetya Jati Panunggaling Kawula lan Gusti kaserat minangka Pambuka Wiwaraning Karahayon. 1. Gunung kelir wawayangan Gusti, ilang gunung apa kang katingal, kang katingal sayektine, sesandine Hyang Agung, kang makarya ing jagad iki, jumeneng pangawak teja, hanyalira hayu, hangemot isine jagat, hamengkoni busana sesilih wangi, ngembani tuk ing Sabda. 2. Aduh yayi gegantiling ati, iki pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=22&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prasetya Jati Panunggaling Kawula lan Gusti kaserat minangka Pambuka Wiwaraning Karahayon.</p>
<p>1. Gunung kelir wawayangan Gusti, ilang gunung apa kang katingal, kang katingal sayektine, sesandine Hyang Agung, kang makarya ing jagad iki, jumeneng pangawak teja, hanyalira hayu, hangemot isine jagat, hamengkoni busana sesilih wangi, ngembani tuk ing Sabda.</p>
<p>2. Aduh yayi gegantiling ati, iki pun kakang prasetya tedak, hanjangkung kabeh lakune, duh yayi pancering laku, hamurwani patrap nyawiji, tetepa panunggalnya, marang ananipun, iki pun kakang sajuga hanyaguhi tansah lampah hangayomi, rahayu kang jinangka.</p>
<p>3. Kakang Prabu pancering panunggil , nila hening pustakeng kaywanan, binuka saliring pangreh, pangesuhing lelaku, para ghaib ing tanah Jawi, dumunung ing wak ingong, ananira iku, wus jangkep titi wancinya, kakang Prabu dadya atur glis tinampi, hayu saliring lampah.</p>
<p>4. Beja temen ananingsun iki, ratri siyang tansah reruntungan, nyabawa nyalira dzate, mar marti kadang pembayun, ponang getih ingkang wuragil, puser pancering kiblat, hayu tansah hayu, Sang Prabu panutan lampah, donya kherat sung prasetya awak mami, nekakna kang den jangka.</p>
<p>5. Marmane kapatah hanyawiji, kadang papat lima pancerira, ngibadah manut kodrate, lelabuhanira hayu, ngelestarekna pancering urip, senadyan durung wikan, sapa yektinipun kang lenggah telengging tawang, panutane tumitah sajagad iki, jejuluk Allah katon (hadi suksma).</p>
<p>6. Ana dene lungguhe Sang Adil, aneng rasa pancering panembah, Sang Guru Jati dunungreh, sirnane laku luput, laku nyimpang paugeran adil, binuka lawang swarga, kanugrahanipun, yekti purwaning panunggal, jeneng ingwang kalayan Ratuning Adil, hayu nir panca baya.</p>
<p>7. Bapa jati pangukiring urip, Ibu jati panunggaling rasa, mengkoni panunggal dzate, sabarang kang dinulu, kang rinasa sajroning ati, mranata krana lampah, hambeg ing aluhur, gawe tentreming wardaya, miji sastra panunggal kawula Gusti, tinata jroning nala.</p>
<p>8. Kaki nini mustikeng pepeling, dumadine rahayu lampahnya, kinemong pra ghaib kabeh, marma tansah rahayu, manungsane weruh mring ghaib, ghaib saka Pangeran, Ingkang Maha Agung, sung prasetya mider ing rat, ngasta paugeran peparinge Gusti, Jamus Kalimasada.</p>
<p>9. Kadangingsun aywa was kuwatir , minangka pambukaning warana, pasamuan agung dzate, rawuhe Nabi Rasul, para ghaib leluhur sami, tanapi pra malaekat, pan samya nyengkuyung, tumurune kanugrahan, tumrap sira kabeh putra wayah mami, tedak ing tanah Jawa.</p>
<p>Katiti:<br />
Malem Minggu Pon<br />
Meruya, 26 Dulkaidah 1939<br />
Meruya, 17 Desember 2006 </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bahterakasih.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bahterakasih.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bahterakasih.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bahterakasih.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bahterakasih.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bahterakasih.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bahterakasih.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bahterakasih.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bahterakasih.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bahterakasih.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bahterakasih.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bahterakasih.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bahterakasih.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bahterakasih.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bahterakasih.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bahterakasih.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=22&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/03/17/serat-cempala-hayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/408b13a63a0a65b428fea52b5bbcf497?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Sudjarwo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pustaka Ngesti Tunggal</title>
		<link>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/01/19/pustaka-ngesti-tunggal/</link>
		<comments>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/01/19/pustaka-ngesti-tunggal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 09:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sudjarwo Sangadji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pustaka Ngesti Tunggal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahterakasih.wordpress.com/2007/01/19/pustaka-ngesti-tunggal/</guid>
		<description><![CDATA[Kawiwitan nyerat katiti: 12 Dulkaidah 1939, 26 Desember 2006, malem Rabu Pon ing Jayakarta. BEBUKA Purwakaning sembah konjuk ing asma dalem Gusti Ingkang Murbeng Dumadi ingkang kagungan purba wisesa lan kamulyan ingkang langgeng dumugining salaminipun, Ingkang Maha Asih, Maha Wicaksana ingkang tansah hamimbuhi sagung tumuwuh mengkoni gesang lan rumeksa sagunging dumadi. Esthining manah yektos panembah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=17&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kawiwitan nyerat katiti: 12 Dulkaidah 1939, 26 Desember 2006, malem Rabu Pon ing Jayakarta.</p>
<p>BEBUKA</p>
<p>Purwakaning sembah konjuk ing asma dalem Gusti Ingkang Murbeng Dumadi ingkang kagungan purba wisesa lan kamulyan ingkang langgeng dumugining salaminipun, Ingkang Maha Asih, Maha Wicaksana ingkang tansah hamimbuhi sagung tumuwuh mengkoni gesang lan rumeksa sagunging  dumadi. Esthining manah yektos panembah kawula namung dhumateng  Panjenenganipun . Mugi keparenga panyerat kawula tinuntuna saenggo saged jumbuh ing antawisipun panguneg uneg kawula kalayan babaring  seratan, ingkang satuhu minangka pisungsun kawula senadyan  boten sakpintena ,katur dumateng para sutresna lampah lelampahan ngawula dumateng Gusti sarta dene maujudaken pangiketing lelampahan krana eling lan mituhu rumeksa dumateng karahayoning bebrayan sesamining dumadi.<br />
Panyerat kawula namung mligi ngedalaken nering raos ingkang gegayutan kaliyan kapitadosan kawula ngemuti dumateng panembah lan pambudi daya murih sageda nadyanta namung sakedik urun urun mimbuhi seratan ingkang sampun wonten anggitanipunn para winasis.<br />
Dene kawula kumowantun nyerat geguritan punika awit saking notol sanget manah kawula mbok bilih saged urun seratan sawetawis kinarya mbangun wimbuhing wawasan babagan nglestarekaken pambudi daya sempurnaning pangawulan dumateng Ingkang Murbeng Gesang.<br />
Kejawi punika minangka atur pakurmatan kawula dumateng para leluhur, ingkang kagungan tetilaran babagan kawruh patunggilan kawujudaken wonten ing salebeting lelabetan tumrap sesamining ngagesang bebrayan wonten ing donya. Sinten mangertos ing tembe wingking kathah pigunanipun, saged hamberkahi tumraping akathah urun hanyekapi kabektahaning ngagesang ing sak rinten dalunipun<br />
Bilih kita raos ingkang lebet bab sesambetan kaliyan lampahing ngagesang punika kenging dipun wastani kita karoban dening sihing Pangeran inggih Gusti Ingkang Maha Asih. Pramila ingkang baku prayogi kita sami tansah muji sukur.<br />
Nanging dene boten rumiyin boten ugi sakpunika ngantos dumugining samangke yektos taksih wonten kemawon ing peranganing papan tiyang ngagesang taksih sami cecongkrahan awit dene sami rebat leres dumateng gegebengan, gegandulan tuwin tekadipun piyambak piyambak.<br />
Kados gumelaring jagad, kawontenan panggelaring piwulang utawi dene tuntunan ingkang sami kasebat ing serat seratanipun para winasis, punika inggih sanget katah pigunanipun utaminipun tumraping gesang kita sami, murih manggih rahayu wilujeng tentrem tuwin raharja sapiturutipun. Pangawikan utawi dene pangertosan ingkang sakalangkung paripurna yektos dumunung wonten ing pangawikan pribadi<br />
Minangka kagem lelabetan dhumateng sesama samining dumadi prayogi keparenga manjing wonten salebeting raos ingkang wening migatosaken dhumateng sabda kawedar saking teleng palimengan. Mugi punika sedaya sageda hanyocogi dumateng kita sami, kagem rumeksa dumateng karahayoning jagad krana lelabetan memayu hayuning bawana, memangun karya enak tyasing sesama, hambangun padaleman suci, nyempurnakaken panembahipun  dumateng Gusti, ngemban  pakaryan ingkang sayektos jumbuh kaliyan dawuh timbalaning Gusti Ingkang Maha Sempurna. Ing salajengipun dumadosa lantaran sempurnanipun anggen samya sapatunggilan.<br />
Ing wasana sumangga keparenga maos sinambi kersoa hanaliti sarta dene paring pamrayogi murih tansaya ganep panyeratipun babagan kawruh sapatunggilan , mugi sageda dados lantaran sempurnanipun anggen kita sami ngemban dawuhing Pangeran Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.</p>
<p> 						Jayakarta, 12 Dulkaidah 1939<br />
							      26 Desember 2006</p>
<p>A.	MEMAYU HAYUNING BAWANA..</p>
<p>Luhuring kawruh babagan karahayon dumunung ana ing pangawikan pribadi, samubarang kalir saliring bab sabarang reh  mengku kaluhuran Gusti sinawung sekar kesumastuti.</p>
<p>            I.  Pangawikan Pribadi Pambukaning Kaywanan</p>
<p>1.	Surya kembar ing madyaning ratri, tumanduking katresnan sanyata, lelabuhan panuntune, rawuhe panunggal laku, pengadilan asmara wening, pinarcaya ing kodrat, tumuli manekung, sinerat pustaka rasa, sing prayitna lamun harsa manjing budi, memayu hayuningrat.</p>
<p>2.	Tumurune pepakon kang jati, peparinge Kang Maha Kuwasa, minangka     panunggal dzate, panyerat karya hayu, rahayune manunggal kardi, pakaryaning Pangeran, aneng budi luhur, panunggaling cipta rasa, miwah karsa panyerat pustaka iki, , mangestu hesti tunggal</p>
<p>3.	Lelabuhan kang minangka wangsit, jumenenge Sang Saka makarya, hanglabuhi sira kabeh,  marsudi budi hayu, kaluhuran sempurna jati, heninging wardayanya, hambeging aluhur, kinarya labuh Negara, marma sigra sinerat pustaka iki, dadya kawuningana</p>
<p>4.	Kang hamaca layan kang marsudi, ing wanci iki uga binuka, kawruh pangawikan dzate, binuka telenging kalbu, pambukaning warana ghaib, kunci nanpa nugraha, sempurnaning laku, memayu hayuning jagad, Nuswantara papan panunggaling ngilmi, sempurnane ngagesang</p>
<p>5.	Ana dene prasetyane Gusti, marang kabeh tumitah ing donya, sing pada gentur tapane, tetep ngawula laku, nulad marang citraning Gusti, kang ana ing saben titah, dadi srananipun, rahayu kang jinangka, kasembadan sasedyane hamungkasi, hayu nir sambekala.</p>
<p>6.	Rikalane sumujud nyawiji, jumujug marang ngarsa Pangeran, Gusti Kang Maha Agunge, lega lila  sedarum, datan melik mring samukawis, sakabehing lelakon, sumarah Hyang Agung, tumurune kanugrahan, hanulada pra priyagung duk ing uni, nulada laku tama.</p>
<p>7.	Utamane wong aurip iki, tuwa anom ageng alit samya, ngetingalna labetane,  hayu sesaminipun, ngesti rasa sempurneng jati, ngenut krenteging manah, suba sitanipun, ing pundi dununge gesang, kang sempurna tumeka ing zaman akhir,tentrem ing salaminya.</p>
<p>8.	Salamine tansah mujosmedi, ing wardaya emut mring Pangeran, tan ginggang langgeng anane, duh tumitah sedarum, gegandengan zaman puniki, yen harsa urip mulya, labuhana iku, jumeneng pangawak teja, hanampani kanugrahane Sang Adil., wahyu makuta rama.</p>
<p>9.	Mardikengrat mustikeng panunggil, katetepan nugraheng Pangeran, prayitna ing panampane, kiblat papat den ukur, lima pancer pusering budi, jembaring jagad raya, bumi langit jumbuh, sanadyan durung  priksa, sayekti apa pralampiteng  Sang Adil , hambega paramarta.</p>
<p>10.	Tanda lamun kekasihing Gusti, nora mundur nadyan mung sejangkah, ngemban dawuh panunggale, memayu hayu laku, hangayomi ciptane Gusti, Ingkang Maha Kuwasa, gawe tentrem hayu, saisine jagad raya, nganggo dasar piwulang saka Sang Adil, pustaka ngesti tunggal.</p>
<p>11.	Tunggal jati sempurneng dumadi, tunggal cipta paripurneng lampah, dumadiya saciptane, sakarsane maujud, tentrem hayu sempurna jati, anane wus tumedak, kabeh laku hayu, yen ginulang dadi srana, kabeh mau dadya tepa lan palupi , tumrap kang pada priksa.</p>
<p>12.	.Priksanana aneng jroning ati, talitinen sajrone wardaya, sagung pakaryan wulangreh, papan dununge kawruh, sempurnaning urip lan pati, sempurnaning panembah, lan pakaryanipun, dadya nyarira manunggal, tumanduke makarya sarwa utami, hayu nir sambe kala</p>
<p>13.	Kalanggengan kang pada den udi, lelabuhan mring sesame gesang, kasempurnan dumadine, sabarang kang dinulu,  kapyarsa lan ginanda yekti, rinasa jroning nala, panggraita jumbuh, panca driya sung panunggal, kaluhuran katresnan Gusti manunggil, lelangen jroning rasa.</p>
<p>14.	Rasa jati sempurneng aurip, kinaroban marang sihing Allah, kataman branta wulangreh, hayu rahayu laku, pangawikan ingkang binangkit, ginugah mring Pangeran, Gusti Maha Agung, tetela lamun sanyata, katetepan kasempurnaning dumadi, memayu hayuningrat.</p>
<p>15.	Ratu Adil sapa kang wus uning, keparenge Gusti Kang Kuwasa, binuka kalbu weninge, wruh saliring lelabuh, hanedakna katresnan jati, katresnan  yekti bisa, gawe tentrem hayu, duh kesuma jati srana, tampanana katresnan ingkang sejati, sajiwa lan saraga.</p>
<p>16.	Jiwa raga gumolong sesaji, hanetepi kuwajibanira, ngawula mring Pangerane, mengkoni budi luhur, patembaya suwita Gusti, tumekeng pecat Suksma, netepi mring dawuh, hanresnani Pangeran, hanetepi jejering panunggal kardi, tresna sapepadanya.</p>
<p>17.	Nyata lamun lelabuhan suci, ingkang bisa gawe tentrem jagad, rahayu pra titah kabeh, kang  kadunungan ngelmu, sempurnaning urip lan pati, sempurnaning panembah, mring Gusti Maha Gung, kang mengkoni Jagad Raya, saisine kapurba wisesa Aji, Purwa Madya Wasana.</p>
<p>18.	Wasanane wong aurip iki, dadi srana gumelaring kodrat, miturut laku jantrane, nadyan sifating Wahyu, kasempurneng urip lan pati, iku amung sarana, murih tansah hayu, kasinungan katentreman, iku wajib den persudi kanti becik, kinarya dadi srana, </p>
<p>19.	Saranane sembada ngugemi, marang dawuhe Kang Maha Kwasa, tentrem ing lahir batine,  kasinungan lelaku, guyub rukun netepi wajib, hambangun Nusa Bangsa, lan Negarinipun, murih hayu kang jinangka, lelabuhan gawe tentrem jagad iki, hayu rahayu ing rat</p>
<p>20.	Rata waradin sajagad iki, kunci rahayu ingkang tinampa, lelabuhan panyerate, bawana gung rahayu, urip tentrem salami lami, duh para kadang ingwang, ywa kongsi kalentu, iki pepakon kang ana, den agema tumekaning zaman akhir, rahayu kang pinanggya.</p>
<p>II .   HASTHA BRATA HANGGELAR LELABUHAN.</p>
<p>Saka anggone temen pamarsudine marang lelabuhan kang utama wus dadi sakmestine lan saukur senadyan wong pidak padarakan pisan kang dudu trahing kesuma rembesing madu tedaking wong mara tapa lan uga dudu tetesing handana warih kepareng marsudi lan gegulang kaya dene lakune satriya tama pangembat pusaraning praja kang sinerat aneng Hastha Brata.<br />
Kang kapisan hambeging kisma, kapindo hambeging tirta, katelu hambeging samirana, kaping pat hambeging samodra, kaping lima hamheging candra, kaping nem hambeging baskara, kaping pitu hambeging dahana, kaping wolu hambeging kartika. Dene wredine mangkene:</p>
<p>1.	Hambeging kisma.<br />
•	Yekti kisma tansah murah asih, marang sapa bae tan prabeda, ngatonake dedanane, samubarang  tumuwuh, dadya boga sagung dumadi, sakehing tetukulan, wulu wetunipun, kisma datan karsa goroh, nadyan anggane pinulasara janmi, tetep asung sugata.<br />
•	Pinaculan dhinudhukan janmi, parandene kisma datan sambat, kepara den katonake, kamurahane atur, pepelikan mawarni warni, mas sesotya sabangsa, uba rampenipun, kaskayane kang mulasara , salawase tansah asung bulu bekti, datan kinaya ngapa,</p>
<p>2.	Hambeging tirta .<br />
•	Lampah anoraga nering kapti, lumuh ngungkul ungkuli tumindak, lungguh jejer sesamine,  hambeging tirta niku, datan ngendak guna sesami, jer tirta iku tansah, warata sedarum, anggung ngasrepi dayanya, dadya usadane  kang pada salit, warata tanpa beda.</p>
<p>3.	Hambeging samirana.<br />
•	Lampah samirana hanaliti, tansah naliti sanggya sasana, tumrap pra janma sakehe, tinaliti sedarum, kanti wradin tan wonten kari,upamane yen Nata, tumrap kwulanipun, suker sakit kinawruhan, tansah priksa dumateng kawula dasih, telaten samubarang.<br />
•	Samirana sumusup talesih, pundi papan miwah padunungan, ing gunung miwah ing ngare, lumebet ing papan sagung, saben titah betah sayekti, nadyan nora rumangsa, banget anggon butuh, murih lestarine gesang, awit  lamun koncatan temah ngemasi, samirana lumawat.</p>
<p>4.	Hambeging samodra.<br />
•	Samodra gung jembar tan upami, jembar panggalihe miwah sabar, kamot momot saliringreh, suka kingkin kepanduk, sasadone den adu manis, datan jujul tan badal, asung papan dunung, tanpa sesambat tan mothah, datan surut yen ketaman ing sak serik, sesameng dumadinya.<br />
•	Jer samodra nglangut tanpa tepi,kajogan sarah miwah prabatang, tirtaning narmada akeh, prandene kamot sagung, nora sesak mring samukawis, tan luber setitika, sarwa sarwi cukup, kang manjing jroning samodra, ora ana kang tan antuk papan yekti, kabeh pada sesinggah.</p>
<p>5.	Hambeging candra<br />
•	Lire candra tansah hamadangi, gawe padang saindenging jagad, hambuka mring paningale, tumrap anggon lelabuh, lelabuhan marang sesami, lamun jejering nata, mring kawulanipun, tansah mardi pangawikan, layan kagunan marang kawula dasih, wulang dwija sogata.<br />
•	Samurwate dununge sayekti, kuta desa lan lengkehing harga, sadrajat lan sapangkate,pada sinung hanggeguru, pamardi putra hangulah ngelmi, murih padang  wawasan, datan salang surup, wikan marang samubarang, kehing ngelmu lan kawruh lahir lan  batin, sangu gesang bebrayan.</p>
<p>6.	Hambeging baskara<br />
•	Daya kakiyatan tansah paring, marang sanggya gumelaring jagad, segara nguwab banyune,  nuli dadia mendung, hangendanu udan tumuli, saka dayaning  surya, kang makarya iku, buminya ginawe mekar, nuwuhake tetukulan neka warni, lelabuhan raditya.<br />
•	Sunaring baskara handayani, hanguripi sagung tetuwuhan, hangebaki jagad gede, tumrap labuhing ratu, anggung paring kakiyatan sekti, marang para kawula, pra nayaka sagung, nangkoda lan nara kisma, nara karya lan kang pada sekeng nenggih, antuk sihing nalendra.<br />
•	Pada antuk sihing Sang Narpati, minangka pawit tata niaga, senadyanta ing tembene, pinasti kudu nyaur, nanging dene srana sarenti, sawise panen tedak, wohing kardi  ngunduh , hambeging raditya dadya, gegadangan sagung ingkang ngudi mukti, ngunduh wohing bebrayan.</p>
<p>7.	Hambeging dahana.<br />
•	Yekti dahana mungkasi kardi, sakabehe lebur ing dahana, tapis gusis lebur lire, kabesmi dening latu, nora bisa selak ngoncati, tumrap lelabuhan Nata, pradata linuhung, pengadilan kang pungkasan, kudu rampung samubarang mbengkas kardi, kang hambeg paramarta.</p>
<p>8.	Hambeging kartika.<br />
•	Sinebut uga hambeging wukir, teguh sentosa sabarang karya, tan keguh sindung riwute, ginempur maruta gung, teguh timbul lahir lan batin, tangguh tanggon tan ngedap, kartika tan keguh, bayu bajra sumiyak, nganan ngering mapan kasor prabawa di, kartika anggung karya.<br />
•	Mapan luhure kagiri giri, gegayuhan tumrap samubarang, nyempurnakna pambudine, tumrap lelabuhan Ratu, yen hanyabda kagem sanagri, saklimahe warata, sanagara sampun, tan wola wali hanyabda, kudu tetep kang dumawuh den labuhi, tan kena owah owah.</p>
<p>Pambegan kang wolung prekara kang pinaringan asma Hasthabrata hanggelar lelabuhan mau, kalamun anggung pinundi kanthi patitising tangguh, empan papan angon mangsa dulu marang kahanan, sayekti bisa ngirup sanggyaning kang tumingal. Iya tapak lelabuhan kang mangkono mau bisa dadi pikukuhing  laku tumrap janma manungsa kabeh ing sajroning bebrayan urip ing alam donya umume, utamane kagem para satriya utama pangembat pusaraning praja kalebu para pemimpin bangsa, nganti tumeka kepala bale wisma utawa mimpin diri pribadi. Kabeh amung kinarya pikukuh murih sakabehing tumindak becik nganggo dasar tepa salira, ditepakake marang rasane dewe. Ana tetembungan ngono ya ngono nanging aja ngono, bisa dadya kasmaran  mring laku kang utama, binangun ing kalbu wening</p>
<p>Sranane murih kasembadan panggelaring lelabuhan, becik kudu den nyatakake pribadi sarana andeling tekad. Kena den basakake, tan ana gunane ngelmu lamun tan krana laku, tan ana pigunane kitab wedha lamun datan pinarcaya. Sanadyan mangkono tinemune ing kasunyatan, uga tan wenang hanjagakake wohing pakarti.Tumrap kang wus pada pono mangulah gati, sakehing lelaku kang hangarep arep marang wohing pakarti iku, dadi pratanda kalamun durung temen panggayuhe. Jer lelabuhane ing kono isih kawoworan lan karoban dening hardaning rasa kemelikan kang dadi pratanda durung suci atine nganti tumeka pribadine  Tembung temen ing kene dudu temene Guru utawa temene Gusti nanging temening pribadinira  kang antuk pikukuhe Kang Maha Kuwasa. Dene Guru miwah Gusti amung saderma niteni cidra lan temening laku sawuse kabeh mau katemahan. Diupamaake kaya wong nandur wiji. Senadyan wiji becik, lemah kang ditanduri uga apik,lamun datan taberi jaga apadene ngupakara, sayekti banget anggone gampang tinerak ing hama</p>
<p>Sayekti karahayon peparinge Gusti Kang Hakarya Jagad winengku ing karsa luhur ngemot tuntunan suci sempurnaning dumadi mangesti tunggil, minangka dadi lantaran tumurune kanugrahan hamurwani lelabuhan luhur memayu hayuning bawana karana hamemangun karya enak tyasing sesama. </p>
<p>B.	MEMANGUN KARYA ENAK TYASING SESAMA.</p>
<p>1.	Katiti panyerat mami, krana sekar smarandana, minangka dadi sranane ,<br />
minangka panggugah rasa, kagem para sutresna, ingkang marsudi rahayu, mamayu hayu bawana</p>
<p>2.	Bawana setra binangkit, dadi srana pangribawa, netepi laku jantrane, duh sutresna mangun rasa, wengakna atinira, tampanana aturipun, pamadyaning budi tama.</p>
<p>3.	Besuk kapan pada prapti, marak sowan mring Pangeran, kepareng nampa kuncine, dadi manungsa utama, pangesuhing pra jalma, kang pada ngudi rahayu, karyenak tyasing sesama.</p>
<p>4.	Sesama sameng dumadi, sesami sameng manungsa, becik kepareng sumeleh, sumarah karsaning Allah, sumadya ngesti brata, tumurune wahyunipun, panetep panata gama.</p>
<p>5.	Agama ageming Aji, sakehing para nalendra, yekti mung titah wantahe, sakabeh pra laku tama, kang tansah ngesti tunggal, iku sayekti wong agung, aneng bumi nuswantara </p>
<p>6.	Sawatara awak mami, mung kinarya saksinira, saksi utama uripe, senadyan ta durung priksa, kang mengku uripira, iku wajib muji syukur,<br />
marang Allah Gustinira.</p>
<p>7.	Gusti Ingkang Maha Asih, Gusti Kang Maha Kuwasa, netepi tresna kodrate, mring sakehing cipteng gesang, kang gumelar aneng donya, gumelar sajagad agung, nyukupi mring kabutuhan.</p>
<p>8.	Butuh apa para jalmi, kabeh mau wus gumelar, saindenging jagad gede, gumelar sajagad raya, wrata  kinaya ngapa, lestarine titah sagung, urip aneng alam donya.</p>
<p>9.	Donya brana sawetawis, dadi lantarane pada, netepi kuwajibane, nggonira manembah Allah, sadina dinanira, lan sawengi wenginipun, netepi mring kuwajiban.</p>
<p>10.	Wajib pada bangun nagri, katarima panembahnya, menawa wus tekeng kene, sira weruh rasanira, rasanya rasaningong, rasane wong sa jagad gung, rasane wong sabuwana</p>
<p>11.	Bawana gung bawana lit, yekti pada tanpa beda, nadyan mung setitik bae, dene yen ta ana beda, yekti mung aneng karsa, kang kawengku laku hayu, nyukupi mring kabutuhan.</p>
<p>12.	Kabutuhan ageng alit, gumantung marang kang nedya, memangun laku uripe, gede cilike mung katon, aneng tata gelarnya, dene aneng yektinipun, yekti pada tanpa beda</p>
<p>13.	Kang beda anane nenggih, ingkang dadi kabutuhan, tumraping pati uripe, kanggo sangu ning dedalan, netepi kewajiban, peparing Gusti Maha Gung, mrih enak tyasing sesama.</p>
<p>14.	Sesama sameng dumadi, ngugemana mring rasanya, bungah susah sandangane, bungahe para manungsa, susahe manungsa uga, tan ginggang nadyan sarambut, yekti mlaku reruntungan.</p>
<p>15.	Reruntungan unda ungkih, nadyan gilir gumantinya, ngenut mring kabutuhane, bungah susah mung saderma, nyukupi kabutuhan, ngibadah marang Sang Hayu, hanetepi kuwajiban.</p>
<p>16.	Apa wajibe wong urip, gumelar ing alam donya, sumebar sajagad gede, becik tansah emut pada, anane sira gesang, minangka dadi pangesuh, paugeraning Pangeran.</p>
<p>17.	Pangeran wus paring wajib, heh sira para manungsa, sumujuda sira kabeh, manembah marang Hyang Manon, kang paring sira gesang, tembe wingking dadi wahyu, sempurnaning kondurira.</p>
<p>18.	Kondur ngarsane Sang Adil, ora ngasta apa apa, kang ginawa mung amale, jroning urip aneng donya, kang yekti sawatara, kena kanggo sangunipun, mulih alam kalanggengan.</p>
<p>19.	Langgeng datan owah gingsir, tan gotang keh amalira, uga tan wuwuh anane, jenjem cukup tanpa slewah, petungane tan salah, nadyan ta amung sarambut, iku pada den emuta.</p>
<p>20.	Emut sajroning aurip, ing donya mung sawetara, mampir ngombe upamane, becik den elinga sira, sadhar saliring lampah, tansah lelaku ngaluhur, memangun mrih tentrem samya.    </p>
<p>21.	Samya nulad mring pribadi, maos serataning Allah, jroning nala tan bedane, pepindane surya kembar, kang hamadangi jagad, jagad alit jagad agung, sayekti datan prabeda.</p>
<p>22.	Prabedane wong aurip, yen priksa marang kawignyan, lantip mring olah rasane, bisa ngenaki mring liyan, lan bisa weh pepadang, syukur yen paring panuntun, tumuju mring kautaman.</p>
<p>23.	Utamane wong aurip, manjinga sajroning rasa, jejer mlaku sesamine, tansaha paring pepadang, hanggelar pangawikan, murih dunung uripipun, purwa madya lan wasana.</p>
<p>24.	Purwaning para manungsa, tinitah urip ing donya, iku sayekti karsane, Gusti Kang Maha Kuwasa, kang paring kanugrahan, nedakna katresnanipun, memayu hayu bawana.</p>
<p>25.	Bawana rinakit wingking, handadosna kawuningan, cinipta kagem papane, para tumitah sajuga, sakdurunge manungsa, tumedak ing donya iku, titah kang liya wus ana.</p>
<p>26.	Sawusna pepak sakalir, nembe manungsa cinipta, pranyata purna anane, purna sempurnaning titah, datan mada manungsa, awit manungsa satuhu, ngemot citraning Pangeran.</p>
<p>27.	Pangeran Kang Maha Asih, tansah mayungi rasanya, marma tentrem pinanggihe, sak mobah mosiking rasa, ngenut jantraning lakon, dadya karenane sampun, sempurna nggonnya ngibadah.</p>
<p>28.	Purna ngibadahe janmi, yen sampun prapteng wancinya, marak sowan mring gustine, awit tinimbalan marak, sowan ngarsa Pangeran, tilar donya lan sedarum, mlebet alam kelanggengan.</p>
<p>29.	Langgeng anggennya manunggil, wusnya ngagem pralampita, dumeling saking uripe, ngrasuk pawiwahan brata, mangestu tunggal jiwa, kalayan Purwaning Hayu, Gusti Purwaning Lelakon.</p>
<p>30.	Lelakon panunggal karsi, jumbuh sajrone lelampah, memangun karya enake, manungsa jroning bebrayan, urip ing alam donya, dadya hayu kang rumuhun, alap ingalapan pedah.</p>
<p>31.	Pedah apa mangun karsi, karyenak tyasing sesame, mertobat jroning rasane, gawe padang lan tumrawang, padang aneng paningal, kang katingal yekti amung, guyub rukun bebarengan.</p>
<p>32.	Bebarengan kabeh sami, nulad citraning Pangeran, kang gumelar aneng kene, pratanda yen sira pada, kekasihe Pangeran, kang wus mengku budi luhur, pono wikan saliring bab.</p>
<p>33.	Wikan samubarang kalir, sabarangreh kang gumelar, warata sajagad gede, sarehne jejering titah, among rasa  bebrayan, becik den persudi mungguh, tumrape wong sabuwana.</p>
<p>34.	Sabuwana among siji, Gusti sesembahanira, Allah Ingkang Welas Asih, katarima panyuwunnya,  pada antuk sarana, nggonira darbe panyuwun, welas asih mring sesama.</p>
<p>35.	Samapta sajroning diri, ngancik zaman kalanggengan, tata tata sakabehe, gawenen tentrem ing gesang, wiwit ing alam donya, wiwitana kanti twajuh, gawe enake bebrayan.</p>
<p>36.	Den bebraya samukawis, marang sakehing lelampah, murih enteng junjungane, lelakone pra manungsa, keparenge Pangeran, nganggo dasar tresna laku, hanindakna manjing rasa.</p>
<p>37.	Rasa Jati mengku karsi, mujudake kasampurnan, kang dadi cipta jatine, ciptane pinanggih mulya, donya tumekeng mbenjang, sayekti lamun wus kondur, dateng alam kalanggengan </p>
<p>38.	Langgeng datan owah gingsir, sajrone bebrayan gesang, rina wengi mrih purnane, anggon ngemban dawuh Allah, murih tentreming jagad, rahayu sabuwana gung, rahayu kabeh kang gesang.</p>
<p>39.	Sangkan Paraning Dumadi, purwaning sira dumados, kagelar urip ing kene, becik sigra  prayitna, hanampani nugraha, kang tedake saben dalu, wahyu pambukeng warana,</p>
<p>40.	Warana binukeng titi, wus tumeka ing wancinya, sastra piwulangreh wenteh, wus terwaca panyeratnya, dedalane  agesang , wus manunggal budi luhur, aneng rasa jatinira..</p>
<p>     Mustikaning bebrayan yekti kapirsan saka anggone mbudi daya panunggaling cipta rasa lan karsa saiyeg saeka praya saiyeg saeka kapti hambangun Padaleman Suci aneng sajroning kalbu weninge sagung  dumadi lan iya krana mangkono dadi lelantaran tumurune kanugrahan Pangeran marang para jalma manungsa kang yekti katingal saka anggone pada urip rahayu wilujeng tentrem mong kinemong ing samukawis langgeng tumeka aneng zaman kalanggengan.  .</p>
<p>C..HAMBANGUN PADALEMAN SUCI</p>
<p>     Mungguh padaleman suci miderek saking  pangertosaning ngakatah punika utamanipun inggih papan ingkang minangka sarana lan prasaraning manembah, kados dene mesjid, greja, wihara lan sanes sanesipun. Dene ingkang dipun maksud padaleman suci wonten ing seratan punika sayektos kita piyambak, jejering manungsa ingkang gesang dados patunggilaning dzat Pangeran Gusti Ingkang Murbeng Dumadi. Pramila sumangga lumebet manjing salebeting alam batos nyingkur sawatawis babagan kelahiran.nulad dumateng citraning Gusti ingkang sajuga kinarya lantaran saged tuntas pambabaring panyeratan hambangun padaleman suci.</p>
<p>1.	Panyerat sastra sumirat, nyebrat ngruwat dedaging sawatawis, lumebet  telenging kalbu, nulad citraning Allah, hanetepi suba sitaning ngaluhur, manembah marang Pangeran, kang lenggah ing kalbu wening.<br />
2.	Weningna patraping driya, driyasmara kasmaran ngudi ngelmi, sempurneng panembahipun, ngemuti jejering titah, ingkang kebak dosa hatanapi luput, murih antuk pangaksama, dadya suci kang pinanggih.<br />
3.	Inggih dzat panglebur dosa, ingkang tuhu tresna lan welas asih, punapa pamintanipun, satemah pinaringan, sagung dosa lan sakatahing luput, krana asmaning Pangeran, ingaksama tanpa kari.<br />
4.	Karoban sihing Pangeran, kang makarya wonten telenging ati, ing hamperu papan dunung, dunungnging pangulah lampah, wijiling kautaman panuntunipun, murih hayu kang pinanggya, sinangga laku utami.<br />
5.	Utamane kang wineca, dening Dzat Pangeran kang wigati, heh ta sira ananIngsun, aja pijer was sumelang, iki Ingsun nedakna piwulang luhur, minangka anggon makarya, mbangun padaleman suci.</p>
<p>6.	Sucining pribadinira, mengku karsa panunggaling laku tami, utamane wong mbeguru, sempurnaning lelampah, murih gesang suci saklaminipun, prayoga sabar narima, welas asih mring sesame.<br />
7.	Sesami samining lampah, kasingkirna hambeg seriking ati, gawenen tentrem sedarum, kang gumelar ing jagad, den jejerana lungguhe pra panuntun, kang pada aweh papadang, marang sesamining urip.<br />
8.	Uripe patang perkara, perkarane murih kabeh bisa uning, kapisan ngemot pandulu, putusing cakrawala, wewalere amung aywa darbe ngungun, marang pamoring Suksma, minangka pangulah ngelmi.<br />
9.	Ngelmu iku kang sanyata, nyata lamun ingudi kanti tapis, tatas buntas ing pandulu, pantoging cakrawala, wewadine wus tan ana kang kadulu, kabeh padang temrawangan, tan samar pamoring urip.<br />
10.	Rinipta munggweng panutan, tinumbase amung krana prihatin, handadekna sarwa hayu, ingkang pada miyarsa, endi pantoge pangrungu kang satuhu, dumunung alam sumpena, penandang laku prihatin.<br />
11.	 Tinimbalan uripira, rawuh ngabyantara ngarsane Gusti, tiniti resmining kidung , dungkap wanci pisowan, wawan sabda kalayan Sang Jati Guru, rumeksa sempurneng lampah, lumampah ing alam ghaib.<br />
12.	Ghaibing Pangeranira, rahayune pangulah kang kaping kalih, lelimbangen jroning kalbu, binarung kaluhuran, luhur drajat mokal yen mada Hyang Agung, anggung suka ing manah, mangulah ngelmu binangkit.<br />
13.	Binarung sagung pepuja, puja puji pepujan pancering urip, urip langgeng jroning nggayuh, gegayuhan kang nyata, sanyatane dalem suci binangun, ngagem panunggal karsa, sempurneng urip lan pati.<br />
14.	Pati uripe pra janma, jaman iki nganti tumeka benjing, jinabat janturing juntrung, jimangkung mring Pangeran, ugemana paugeran jroning kalbu, bebukaning pambuka, bangun Padaleman Suci.<br />
15.	Katelu pustakeng rasa, rasa jati pangukiring kalbu wening, ing madyaning laku luhur, luhuring pangulah rasa, sejarahe ywa kongsi tinilar sampun, iku tetilaranira, leluhur makina nguni.<br />
16.	Unine jangka winaca, caraka gung tumedak ing Tanah Jawi, Jawa jumejering Wahyu, yuwana saliring lampah, lelampahan ngudi wahyu tumurun., tumedak manjing sajiwa, sagung titah laku tami.<br />
17.	Minangka pungkasan nyerat, prekawis gesang kaping pat puniki, pikantuk palilahipun, Guru jati sarana, nadyan namung winastan purwaning hayu, rahayu anggen dedana, dedarma wiji utami.<br />
18.	Wiji utami tinampa, ambak ambak amung wijangan wiji, wiji Gusti Maha Gung, kang dadi sraneng gesang, sangsaya dangu saya ngrembuyung, ngrembaka ngebaki jagad, jagad agung jagad alit.<br />
19.	Linambaran pangawikan, pamrayogi dumateng pangulah kardi, dimen purna lelabuh, lelabuhan kang nyata, tansah anggung gumarunggung ngudi luhung, nggayuh tedaking nugraha, hayu sempurneng dumadi.<br />
20.	Dumadiya kang cinipta, cipteng manah amung minangka saksi, sinaksenan sedarum, rumeksaning kaywanan, nadyan saksi nanging ugi kang ngatur, aneng jaman pengadilan, langgeng datan owah gingsir.<br />
21.	Sir pandulu pamiyarsa, myang pangganda pangrasa miwah pangesti, tinampa kanti twajuh, tan ana ingkang gotang, tanggung jawab dumunung aneng Panuntun, panetep panata gama, gumelaring jaman akhir.<br />
22.	Akhirulkalam panyerat, pawiwahan mbangun padaleman suci, cinumponan mring Hyang Agung, bebarengan Pangeran, rinten dalu damel resep ingkang srawung, sesarengan halelampah, panunggal kawula Gusti</p>
<p>(bersambung)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bahterakasih.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bahterakasih.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bahterakasih.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bahterakasih.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bahterakasih.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bahterakasih.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bahterakasih.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bahterakasih.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bahterakasih.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bahterakasih.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bahterakasih.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bahterakasih.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bahterakasih.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bahterakasih.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bahterakasih.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bahterakasih.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bahterakasih.wordpress.com&amp;blog=616991&amp;post=17&amp;subd=bahterakasih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahterakasih.wordpress.com/2007/01/19/pustaka-ngesti-tunggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/408b13a63a0a65b428fea52b5bbcf497?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Sudjarwo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
